Life & Death

 Jika harus memilih antara 'hidup stress' akibat mengejar impian masa depan duniawi atau 'hidup hampa' karena meninggalkan segala harapan duniawi. Aku lebih baik memilih untuk hidup hampa karena meninggalkan segala urusan tentang duniawi itu. Karena pada akhirnya setiap manusia hidup hanya untuk mati. Sama seperti ketika kita mau berpergian ke suatu tempat atau liburan kita perlu menyiapkan bekal atau uang apa saja untuk bisa berlibur di sana. Hanya saja, kenyataannya yang dimaksud disini bekal yaitu Amal baik atau pahala. Dan sebelum itu terjadi tidak banyak manusia yang menyadarinya.


Ya mungkin semua orang pasti selalu menginginkan kesuksesan untuk bahagia dunia ataupun akhirat juga. Namun sebagai orang yang menyaksikan dunia ini dari awal segala harapan baik atau buruknya yang selalu terjadi kenyataan menganggap semua tentang dunia ini itu seperti ilusi mimpi. Sama seperti malam ini, kau tertidur kemudian kau bermimpi indah bahkan merasa mimpi itu seperti berhari-hari, atau berbulan-bulan bahkan tahun, padahal kau hanya tidur selama 6 jam tapi kau bisa melihat tentang masa depan hingga 6 tahun mendatang, namun ketika kau terbangun semua itu tidak nyata.


Atau kau sibuk mengurusi pekerjaan dunia untuk hari esok, hari-hari selanjutnya sampai lupa bahwa kau telah lelah dan tertidur pulas, dan tidak sadar bahwa kau sedang bermimpi panjang. Saat itu kau punya harta tahta dan segalanya dari hasil kerja keras pekerjaan mu itu hingga kau masih merasa belum punya dengan semua itu. Namun sampai saat itu kau masih tidak sadar bahwa yang kau lihat itu hanyalah mimpi masa lalu yang sebenarnya kau sendiri sudah mati. :)


Maka dari itu, aku pernah membaca sebuah percakapan singkat tentang kehidupan dan kematian. (Est 2015)


Kehidupan bertanya kepada Kematian:

"Mengapa semua orang cinta diriku tapi mereka benci dirimu?!" 😏


Kematian menjawab:

"Karna kamu adalah kebohongan yang indah sedangkan diriku adalah kenyataan yang menyakitkan" 🙂  

Comments